Ada sebuah cerita yang tersimpan dalam buku-buku sejarah, tentang seorang lelaki yang sedang berjalan sendirian di malam hari di kota Madinah.
Ia mendengar suara tangis seorang perempuan tua dari balik pintu. Ia berhenti. Mengetuk. Perempuan itu bilang ia tidak punya makanan, dan anak-anaknya kelaparan. Lelaki itu meminta izin menunggu sebentar, lalu pergi — dan kembali beberapa waktu kemudian dengan karung gandum di punggungnya sendiri.
Ia tidak memanggil pelayan. Tidak menyuruh pengawal. Ia pikul sendiri karungnya, ia masak sendiri makanannya di depan anak-anak yang kelaparan itu, sampai mereka kenyang dan tertidur.
Lelaki itu adalah Umar bin Khattab. Amirul Mukminin. Khalifah yang kekuasaannya membentang dari Persia hingga Afrika Utara. Pemimpin yang namanya disebut dengan takzim oleh dua imperium yang ditaklukannya.
Tapi malam itu, ia hanya seorang lelaki yang tidak sanggup melewati tangisan perempuan tua tanpa berbuat sesuatu.
Dari Musuh Terbesar Menjadi Pelindung Terkuat
Sejarah Umar adalah sejarah transformasi paling dramatis yang pernah ada.
Sebelum islam, ia adalah salah satu penentang paling vokal — bahkan paling berbahaya. Ketika ia berniat membunuh Nabi ﷺ, para sahabat di Makkah diliputi ketakutan. Bukan tanpa alasan: Umar bukan sekadar orang yang berteriak-teriak. Ia kuat, ia berani, dan ia serius.
Tapi dalam perjalanan menuju Nabi, ia singgah ke rumah saudarinya yang ternyata sudah masuk islam. Ia marah. Ada keributan. Ada darah dari tangan saudarinya sendiri.
Dan kemudian ia meminta untuk membaca apa yang sedang saudarinya baca.
Beberapa ayat Al-Quran yang ia baca hari itu — dan tidak ada yang tahu persis mana ayatnya — mengubah segalanya. Ia pergi menemui Nabi ﷺ. Ia mengucapkan syahadat.
Kaum muslimin yang tadinya bersembunyi untuk shalat, hari itu shalat terbuka di depan Ka’bah. Karena Umar ada bersama mereka.
Sepuluh Tahun yang Mengubah Dunia
Umar menjadi khalifah pada tahun 13 Hijriah, setelah wafatnya Abu Bakr. Ia memerintah selama sekitar sepuluh tahun, dan dalam sepuluh tahun itu terjadi perubahan yang biasanya membutuhkan satu abad.
Yerusalem dibuka dengan damai — Umar sendiri yang datang ke sana, menerima kunci kota, lalu menolak shalat di dalam gereja agar tidak memberikan presedan bahwa gereja itu akan diubah menjadi masjid. Sebuah keputusan yang luar biasa dari pemimpin militer yang baru saja menang.
Persia yang telah berdiri ribuan tahun dengan peradaban yang megah, tunduk. Mesir yang menjadi lumbung peradaban dunia kuno, bergabung. Dan di setiap wilayah yang baru dibuka, Umar mengirim instruksi yang sama kepada para gubernurnya: jangan zalimi rakyat, jangan ambil hak mereka, dan laporkan kepadaku jika ada yang menzalimi.
Ia mendirikan sistem baitul mal — perbendaharaan negara yang dikelola secara transparan. Ia membayar gaji tetap untuk tentara dan pejabat, agar tidak ada yang “terpaksa” korupsi karena kebutuhan. Ia menetapkan kalender Hijriah yang masih kita gunakan hingga hari ini.
Pemimpin yang Paling Takut Dikuasai Kekuasaan
Yang membuat Umar istimewa bukan hanya kemenangan militer atau inovasinya dalam tata negara. Yang membuat beliau diingat lintas zaman adalah bagaimana kekuasaan tidak mengubahnya menjadi penguasa yang lupa diri.
Ia pernah ditanya, “Mengapa pakaianmu tambal sulam, wahai Amirul Mukminin?”
Ia menjawab, “Karena bajuku yang lain sedang dicuci.”
Seorang gubernur wilayah mewah, sementara khalifah bertambal sulam.
Ia pernah memanggil putranya sendiri — Abdullah bin Umar, yang dikenal sebagai salah satu perawi hadits paling terpercaya — untuk dihukum cambuk karena meminum khamr. Tanpa keringanan, tanpa perkecualian. Darahnya sendiri tidak membuatnya luput dari hukum.
Dan di penghujung hidupnya, ketika ia ditikam oleh Abu Lu’lu’ al-Majusi saat memimpin shalat Subuh, ia berpesan agar khalifah yang menggantikannya dipilih melalui musyawarah enam orang terbaik. Putranya, Abdullah, tidak masuk dalam daftar itu.
“Abdullah boleh ikut bermusyawarah,” katanya, “tapi tidak boleh menjadi khalifah.”
Bahkan dalam mengurus penggantinya, ia masih menjaga agar kekuasaan tidak mengalir ke keluarganya.
Warisan yang Tidak Lapuk
Ada yang menarik ketika membaca kisah-kisah Umar. Kehebatannya bukan semata karena ia kuat atau cerdas, meski ia memang keduanya. Kehebatannya terletak pada sesuatu yang jauh lebih langka: ia takut kepada Allah lebih dari ia takut pada apapun di dunia ini.
Ia pernah berkata sendiri: “Seandainya seekor keledai terpeleset di Irak karena jalanan yang rusak, aku khawatir Allah akan memintai pertanggungjawabanku — mengapa kamu tidak memperbaiki jalannya, wahai Umar?”
Seseorang yang memegang kekuasaan atas jutaan orang, tapi masih bisa malam-malam membawa karung gandum sendiri ke rumah orang miskin. Seseorang yang menaklukkan kerajaan, tapi gemetar di hadapan satu timbangan mizan di hari akhirat.
Mungkin itulah yang paling kita butuhkan di setiap zaman — bukan pemimpin yang paling kuat, bukan yang paling cerdas, tapi yang paling takut.