Dalam sejarah para sahabat yang panjang dan penuh kemuliaan, ada nama-nama yang selalu kita sebut dengan penuh hormat — Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Khalid, Bilal. Nama-nama itu terasa besar, terasa heroik, terasa mudah dijadikan teladan.
Lalu ada Julaybib.
Namanya jarang muncul di buku-buku populer. Di majelis-majelis umum, kisahnya nyaris tidak pernah diceritakan. Tapi bagi mereka yang pernah mendengarnya, kisah Julaybib meninggalkan bekas yang sulit dilupakan — justru karena ia begitu sederhana, dan begitu dalam.
Tidak Ada yang Mau Mengenalnya
Julaybib adalah orang yang tidak dihitung oleh masyarakat Madinah.
Ia tidak punya nasab yang jelas — dalam tradisi Arab saat itu, nasab adalah segalanya. Tidak ada klan yang melindunginya, tidak ada suku yang mengakuinya. Penampilannya tidak menarik. Hartanya tidak ada. Posisi sosialnya, kalau bisa disebut ada, berada di lapisan paling bawah.
Dalam bahasa kita hari ini: ia orang yang biasanya dilewatkan begitu saja.
Tapi ada satu yang berbeda dari Julaybib — hatinya. Ia beriman. Dan imannya bukan iman yang biasa-biasa saja.
Sebuah Lamaran yang Tidak Masuk Akal
Suatu hari, Rasulullah ﷺ mendatangi seorang sahabat dari kaum Anshar. Beliau berkata, “Aku ingin menikahkanmu.”
Sang sahabat senang bukan kepalang. Siapa yang tidak ingin dicarikan jodoh oleh Rasulullah sendiri?
“Dengan putri siapa, ya Rasulullah?” tanyanya antusias.
Rasulullah menyebut sebuah nama. Sahabat itu langsung menyahut, “Baik, izinkan saya meminta pendapat orang tua saya.”
Ia pun pergi. Ayah dan ibunya bertanya, “Dengan siapa?”
Ketika nama itu disebut, wajah sang ayah berubah. “Julaybib?” ulangnya. “Tidak. Dia bukan dari kalangan kita.” Ibunya, lebih tegas lagi, menolak.
Tapi sang putri — yang tahu bahwa lamaran itu datang dari Rasulullah ﷺ — justru berkata tenang kepada kedua orang tuanya: “Apakah kalian menolak Rasulullah? Kembalilah kepada beliau dan sampaikan kesediaanku.”
Di hadapan pilihan antara standar sosial keluarganya dan kepercayaan penuh kepada Nabi, ia memilih yang kedua.
Julaybib pun menikah.
Jalan Pulang yang Tidak Pernah Tiba
Tidak lama setelah pernikahan itu, pasukan kaum muslimin bergerak menuju sebuah pertempuran. Julaybib ikut.
Pertempuran usai. Para sahabat kembali menghitung siapa yang gugur. Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah ada yang tidak kembali?”
“Fulan tidak ada. Fulan tidak ada.” Nama-nama disebut satu per satu.
Kemudian seseorang berkata, “Julaybib juga tidak ada, ya Rasulullah.”
Rasulullah berdiri. Beliau berjalan mencari tubuh Julaybib. Ditemukanlah ia — terbaring di antara tujuh jasad musuh yang ia bunuh sebelum gugur sendiri.
Nabi ﷺ berjongkok. Beliau mengangkat tubuh Julaybib dan meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau berkata — dan riwayat ini membuat hati berdenyut:
“Ini darinya, ini darinya.”
Artinya: tujuh nyawa musuh itu diberikan oleh Julaybib. Ia tidak pergi dengan tangan kosong.
Julaybib dikuburkan hari itu. Tidak ada tangisan besar-besaran, tidak ada prosesi megah. Tapi Rasulullah ﷺ sendirilah yang menjadi saksi bisu atas kepergiannya.
Yang Tidak Terlihat Mata, Terlihat oleh-Nya
Ada sesuatu yang perlu kita renungkan dari kisah ini.
Masyarakat Madinah tidak menghitung Julaybib. Bahkan keluarga calon istrinya pun menolaknya. Tapi Rasulullah ﷺ — yang matanya melihat apa yang tidak dilihat orang lain — justru mendatanginya, menikahkannya, dan menangis atas kepergiannya.
Rasulullah bukan tidak tahu kondisi Julaybib. Beliau tahu persis. Tapi justru karena itulah beliau memilih untuk memerhatikan.
Mungkin ada pesan di sini untuk kita: bahwa di antara keramaian orang-orang yang tampak sukses, berpenampilan menarik, dan berpengaruh — ada Julaybib-Julaybib lain yang sedang duduk diam di pojok majelis. Yang tidak pernah diajak bicara di pesta. Yang namanya tidak pernah masuk dalam daftar undangan.
Dan mungkin, di mata Allah, mereka adalah permata.