Di Balik Turunnya Surat Abasa

Tidak banyak nama manusia yang disebut langsung oleh Allah dalam Al-Quran.

Abdullah bin Umm Maktum termasuk salah satunya.

Ia seorang buta. Bukan seorang kaya, bukan pula pembesar Quraisy. Namun, Allah mengangkat namanya untuk memberikan pelajaran abadi bagi umat ini.

Siapa Abdullah bin Umm Maktum?

Abdullah bin Umm Maktum adalah sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang kehilangan penglihatannya sejak lahir.

Meski demikian, ia tidak pernah merasa rendah atau berputus asa. Ia rajin datang ke majelis Nabi ﷺ untuk belajar Islam dan meminta penjelasan tentang ayat-ayat yang baru turun.

Kematangan spiritualnya justru melebihi banyak orang yang memiliki penglihatan sempurna.

Momen yang Mengubah Segalanya

Suatu hari, Nabi ﷺ sedang berusaha keras mendekati para pembesar Quraisy. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengaruh besar. Jika mereka masuk Islam, dakwah akan tersebar lebih cepat.

Di saat yang genting itu, Abdullah bin Umm Maktum datang.

Ia memanggil Nabi ﷺ dengan suara keras: “Wahai Muhammad, ajarkan aku ayat-ayat yang Allah turunkan kepadamu.”

Nabi ﷺ sedang fokus pada para pembesar. Beliau tidak menyambut Abdullah dengan penuh perhatian. Wajah beliau tampak tidak suka dan berpaling darinya.

Bukan karena Nabi ﷺ meremehkannya. Beliau hanya berharap para pembesar itu mau mendengar dan masuk Islam.

Namun Allah tidak menyukai sikap tersebut.

Allah Menegur Langsung

Di saat itu juga, turunlah Surat Abasa dengan tegas:

عبس وتولى أن جاءه الأعمى
“Ia (Nabi) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang kepadanya orang buta.”
— QS. Abasa: 1-2

Teguran ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengangkat nilai. Allah mengingatkan bahwa kehadiran orang yang tulus mencari ilmu lebih mulia di sisi-Nya daripada perhatian pada orang-orang yang justru enggan beriman.

Allah berfirman lebih lanjut:

وما يدريك لعله يزكى أو يذكر فتنفعه الذكرى
“Tidaklah engkau (Muhammad) mengetahui, barangkali dia (orang buta itu) hendak membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia hendak mengambil pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat kepadanya.”
— QS. Abasa: 3-4

Dan yang lebih mengharukan, Allah membandingkannya dengan sikap pembesar Quraisy:

أما من استغنى فأنت له تصدى وما عليك أن لا يزكى
“Adapun orang yang merasa dirinya cukup (karena hartanya), maka engkau (Muhammad) menyambutnya dengan penuh perhatian. Padahal tidak ada bagimu tanggung jawab kalau dia tidak membersihkan dirinya.”
— QS. Abasa: 5-7

Pelajaran Abadi

Kisah ini membawa beberapa hikmah mendalam:

  • Islam tidak memandang status sosial. Harta, jabatan, dan keturunan tidak menentukan derajat di sisi Allah.
  • Keikhlasan lebih utama daripada kedudukan. Seorang buta yang haus ilmu lebih diperhatikan Allah daripada pembesar yang sombong.
  • Setiap orang berhak mendapatkan ilmu. Tidak ada yang terlalu rendah untuk belajar dan berkembang.
  • Siapa pun bisa menjadi berharga. Abdullah bin Umm Maktum kemudian diangkat oleh Nabi ﷺ menjadi muadzin dan pernah menjabat sebagai gubernur Madinah saat Nabi berperang.

Penutup

Abdullah bin Umm Maktum wafat pada masa khalifah Utsman bin Affan. Ia meninggal di Madinah, kota yang pernah ia pimpin untuk sementara waktu.

Namanya tetap abadi bukan karena kekayaan atau jabatan.

Namanya abadi karena Allah sendiri yang memanggilnya dalam Kitab-Nya, memberikan penghormatan tertinggi bagi seorang hamba yang buta secara fisik, namun memiliki penglihatan spiritual yang tajam.


Referensi

  • Al-Quran Surat Abasa (QS. 80)
  • Sahih Bukhari, Kitab Tafsir, Bab Surat Abasa
  • Sahih Muslim, Kitab Al-Jannah wa Sifat Na’imiha wa Ahliha
  • Ibn Ishaq, Sirah Nabawiyyah