Ada sebuah ironi yang setiap hari terjadi di mana-mana.

Seorang lelaki yang di masjid sangat berhati-hati menjaga lisannya, tak pernah membicarakan aib orang lain, pulang ke rumah dan dengan ringannya mengetik komentar pedas di postingan orang yang tidak ia setujui. Seorang perempuan yang selalu mengingatkan anaknya untuk berbicara santun, tapi tanpa pikir panjang menekan tombol share pada berita yang belum jelas kebenarannya.

Kita fasih bicara soal menjaga lisan. Tapi kita lupa bahwa jempol juga perlu dijaga.

Ketika Layar Terasa Tidak Nyata

Ada alasan psikologis mengapa orang lebih berani berkata kasar di media sosial dibanding berhadapan langsung. Jarak fisik dan anonimitas menciptakan ilusi bahwa ucapan digital entah bagaimana “tidak sungguhan.” Efeknya lebih ringan. Konsekuensinya lebih jauh.

Sayangnya, Allah tidak melihat itu dengan cara yang sama.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa seseorang bisa tergelincir ke dalam api neraka karena satu ucapan yang ia lemparkan begitu saja — tanpa ia pikir berat ringannya. Waktu itu belum ada Twitter. Tapi bayangkan jika ada.

Setiap status update, setiap komentar, setiap pesan yang kita kirim — semuanya adalah “ucapan” yang akan dipertanggungjawabkan.

Tiga Pertanyaan Sebelum Memposting

Seorang ulama klasik pernah berpesan: sebelum berbicara, tanyakan tiga hal — apakah ini benar? apakah ini baik? apakah ini perlu?

Di era digital, kita bisa menambahkan satu pertanyaan lagi: apakah ini akan saya sesali kalau dibaca ulang setahun dari sekarang?

Tidak perlu menjadi paranoid hingga tidak berani bersuara sama sekali. Tapi setidaknya, beri ruang bagi nalar dan hati nurani sebelum jempol bergerak.

Yang Lebih Berbahaya dari Makian

Jika makian terang-terangan masih mudah dikenali sebagai sesuatu yang salah, ada yang jauh lebih halus dan lebih berbahaya: ghibah berjamaah.

Mengomentari keburukan seorang public figure di kolom komentar terasa wajar, bahkan terasa seperti partisipasi sosial. Mengamini foto yang mengolok-olok seseorang terasa seperti humor biasa. Meneruskan gosip dalam grup keluarga terasa seperti berbagi informasi.

Tapi semua itu tetap ghibah. Lebih parah lagi — ghibah yang disaksikan ribuan orang dan tersimpan permanen di server seseorang di belahan dunia lain.

Membangun Kebun, Bukan Semak Belukar

Media sosial pada dasarnya netral — ia seperti sebidang tanah. Bisa ditanami bunga, bisa juga dibiarkan jadi semak belukar penuh duri.

Yang membedakan adalah pilihan sadar sang pengelola.

Ada banyak muslim yang menggunakan media sosialnya untuk menyebarkan ilmu, menginspirasi orang lain dengan kebaikan sehari-hari, dan membangun komunitas yang saling menguatkan. Mereka membuktikan bahwa menjadi aktif di media sosial tidak harus berarti kehilangan adab.

Kita juga bisa memilih demikian. Setiap hari, setiap kali membuka aplikasi, ada pilihan — mau menjadi bagian dari kebisingan, atau bagian dari kejernihan?

Pilihan ada di jempol kita.